Sabtu, 09 April 2011

Noer Alie : Riwayat Pendidikan dan Anugerah Pahlawan Nasional

KH Noer Alie lahir sebagai anak keempat dari sepuluh bersaudara pasangan Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin pada tanggal 15 Juli 1914 di desa Ujungmalang, Onderdistrik Babelan, Distrik Bekasi, Regentschap ( kabupaten ) Meester Cornelis, Residensi Batavia yang sekarang sesuai usulan yang diberikan Menteri Luar Negeri Adam Malik.

Pada tahun 1970 – an ketika berkunjung ke pesantren Attaqwa bernama Desa Ujungharapan Bahaga, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Semasa kecil KH Noer Alie sudah memperlihatkan semangat belajar yang sangat baik dimana pada usia dibawah lima tahun Noer Alie kecil sudah mulai menangkap dan menghafal surat –surat pendek dalam Al Quran yang diajarkan oleh kedua orang tua dan kakaknya. Pada Usia tujuh tahun Noer Alie mengaji pada Guru Maksum di kampung Ujungmalang Bulak, Pelajaran yang diberikan oleh Guru Maksum lebih dititikberakan pada pengenalan dan mengeja huruf Arab, menyimak, menghafal dan membaca Juzz-amma serta menghafal dasar – dasar rukun Islam, rukun iman, tarikh para nabi, akhlak dan Fikih

Pada usia sembilan tahun Noer Alie mengaji pada Guru Mughni di Ujungmalang. Melalui Guru Mughni beliau mendapatkan pejaran lanjutan dari apa yang telah dipelari dari Guru Maksum serta pelajaran alfiah atau tata bahasa Arab, Al-Quran, Tajwid, nahwu, tauhid dan Fiqih. Semasa kanak – kanak Noer Alie sudah bercita – cita ingin “ membangun atau menciptakan perkampungan surga “. Sebuah cita – cita yang diserap dan dipahami dari gurunya ( Guru Maksum dan Guru Mughni ) yaitu tentang baldatun thoyibatun warobbun ghafur, Negara aman dan sejahtera yang dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala

Semasa muda Noer Alie mondok pada Guru Marzuki di Kampung Muara, Klender, Meester Cornelis. Di sana beliau mempelajari kitab kuning ( kitab Islam Klasik ) sebagai inti pendidikan. Disamping itu Guru Marzuki juga mengajarkan Noer Alie cara menunggang kuda dan berburu bajing ( hewan pemakan buah kelapa yang dianggap sebagai hama )

Pada tahun 1934 Noer Alie menuntut ilmu ke kota Makkah , Saudi Arabia tepatnya di Madrasah Darul Ulum. Selain itu beliau juga menuntut ilmu pada sejumlah syeikh yang tersebar dilingkungan Masjidil Haram.
 

Beliau belajar ilmu hadits pada Syeikh Alie Al-Maliki.
 
Beliau belajar kutubusittah ( hadits yang diriwayatkan oleh enam perawai : Buchori, Tarmizi, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah ) kepada Syeikh Umar Hamdan.
 
Beliau belajar Ilmu Figih dengan kitab Iqna sebagai acuan kepada Syeikh Ahmad Fatoni.

    Beliau belajar ilmu nahwu, qawati ( sastra ), badi’ ( mengarang ), tauhid dan mantiq ( ilmu logika yang mengandung filsafah Yunani ) dengan kitab Asmuni sebagai acuan kepada Syeikh Mohamad Amin Al- Quthbi

    Beliau belajar ilmu politik pada Syeikh Abdul Zalil

    Beliau belajar ilmu hadits dan ulumul Quran pada Syeikh Umar Atturki dan Syeikh Ibnu Arabi

Di negeri rantau itu Noer Alie yang mudah bergaul memiliki banyak teman, terutama pelajar Betawi seperti Alie Syibromalisi, Hasbullah, Hasan Basri, Tohir Rohili Mukhtar, Ahmad Hajar Maliki, Abdul Syukur Khoiri dan Masturo. Beliau juga mejalin hubungan dengan pelajar dari berbagai Negara lain termasuk Muhammad Abdul Muniam Inada, pelajar Islam dari Jepang


Sebagai Ketua Persatuan Pelajar Betawi ( PBB ), Noer Alie Juga Aktif dalam Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesai ( PPPI ), Persatuan Talabah Indonesia ( Pertindo ) dan Perhimpunan Pelajar Indonesai Melayu (Perindom ).


Noer Alie mengikuti perkembangan situasi dan kondisi di tanah air melalui surat kabar yang terbit di Saudi Arabia dan Hindia Belanda. Beliau mendapat informasi bahwa sejak tahun 1936 perjuangan kaum pergerakan di tanah air dibatasi, bahkan beberapa diantarnya ada yang dibubarkan, sedangkan petisi yang diajukan Sutarjo ditolak pemerintah Hindia Belanda. Kondisi tersebut menggugah semangat kebangsaan Noer Alie dan kawan – kawannya di Makkah.


Ketika suasana mendekati perang dunia II ( akhir 1939 ) Noer Alie yang sudah memiliki cukup ilmu memutuskan untuk kembalie ke tanah air.
Syeikh Alie Al – Maliki yang melihat potensi keulamaan Noer Ali,
berpesan diakhir pertemuan.
“ Ingat, jika bekerja jangan jadi penghulu ( pegawai pemerintah ). Kalau kamu mau mengajar, saya akan ridho dunia akhirat.

Ulama Pejuang
Kepulangan Noer Alie ke kampung halamannya, Ujungmalang menjadi duri dalam daging bagi tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda. Setelah mendirikan madrasah dan menikah dengan Siti Rahmah binti Mughni. Noer Alie menghimpun kekuatan umat, diantaranya membangun jalan tembus Ujungmalang – Teluk Pucung pada tahun 1941

Sebagai pimpinan Islam yang sudah masuk dalam daftar Shimubu ( Kantor Urusan Agama ) pada masa pendudukan Jepang ( 1942 – 1945 ), Noer Alie menyikapi dengan sangat hati – hati.

Pada pertengahan April 1942 Noer Alie memenuhi undangan tentara Jepang menghadap pimpinan Shimubu di kantor Shimubu, dekat masjid Matraman, Jatinegara. Ternyata disana ada Muhamad Abdul Muniam Inada, pelajar Jepang yang menjadi temannya di Makkah, yang menjadi ketua Shimubu.

Menyadari posisinya dalam kondisi serba salah, dengan kemahiranya berdiplomasi, Noer Alie secara halus menolak ajakan Muniam dengan alasan “ Saya sedang memimpin pesantren yang baru didirikan. Kalau saya terjun bersama ulama lain , bagaimana nasib santri saya, mereka akan tercerai berai tak terurus”. Dengan alasan yang masuk akal tersebut Munian mengijinkan Noer Alie untuk tetap mengurus pesantren sambil “ tetap berdoa demi kemamuran Asia Raya “

Dengan mendapat jaminan keamanan dari Munian, Noer Alie menyadari konsesi yang harus dibayar yaitu beliau harus menjamin keamanan daerahnya, mengibarkan bendera Jepang dan melaksanakan Seikeirei ( membungkukkan badan )

Bagi Noer Alie konsesi tersebut tetap dituruti, tetapi keyakinan Jepang tentang kedewaan kaisar bertabrakan langsung dengan iman Islam, karena serupa dengan ruku dalam shalat. Menyikapai hal demikian Noer Alie hanya memerintahkan para badal dan santrinya untuk melakukan Seikeirei pada saat dating tentara Jepang saja sebagai taktik demi keselamatan perjuangan, Untuk mempersiapkan diri bila sewaktu – waktu bangsa Indonesia harus bertempur secara fisik, Noer Alie menyalurkan santrinya ke dalam Heiho ( pembantu prajurit ), Keibodan ( barisan pembantu polosi ) diteluk pucung. Salah seorang santrinya Marzuki Alam dipersilahkan mengikuti latihan kemiliteran Pembela Tanah Air ( PETA ) Noer alie mendapat informasi langsung dari badalnya ( anak buah ), Yakub Gani yang menghadiri langsung pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno – Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 dan pada tanggal 19 September 1945 pada rapat raksasa dilapangan Ikada ( sekarang lapangan Monas ) Noer Alie datang dengan mengendarai delman

Gelar Kiai Haji ( KH ), sebelumnya Noer Alie dipanggil dengan sebutan Guru diganti oleh orator besar Soetomo ( Bung Tomo ) yang menyebut nama Noer Alie beberapa kali dalam siaran radionya di Surabaya, Jawa Timur.

Pada bulan November 1945 KH Noer Alie membentuk Laskar Rakyat, seluruh badal dan santrinya diperintahkan memfakumkan proses belajar mengajar mendukung perjuaangan dan beliau juga mengeluarkan fatwa “ Wajib hukumnya berjuang melawan penjajah “ sehingga dalam waktu singkat terhimpun sekitar 200 orang yang merupakan gabungan para santri dan pemuda sekitar babelan, Tarumajaya, Cilincing, Muaragembong yang kesemunya secara mental dilatih lansung oleh KH Noer Alie dan secara fisik dilatih dasar dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) Bekasi dan Jatinegara seperti Anis Taminuddin, Darmokumoyo dan Gondokusumo

Akhir tahun 1945 dibentuk kesatuan bersenjata yang berafiliasi kepada partai politik. Saat itu Abu  Gozali sebagai komandan resimen Hizbullah Bekasi ( badan pejuangan Partai Majelis Sjuro Muslimin Indonesia / Masjumi ) menunjuk KH Noer Alie sebagai komandan Batalyon III Hizbullah Bekasi. Pada tanggal 06 Januari 1946 KH Noer Alie menyatukan badan – badan perjuangan dalam wadah Laskar Rakyat Bekasi karena beliau mengkhawatikan akan terjadi perpecahan antara badan – badan pertahanan karena situasi politik saat itu, dimana beberapa kesatuan bersenjata mulai berebut haluan pertahanan dan kemudian Laskar Rakyat Bekasi yang telah terbentuk tersebut terpaksa beliau tinggalkan karena adanya desakan agar Laskar Rakyat Bekasi bergabung ke dalam Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka yang bersikap konfrontatif kepada pemerintah

Kekhawatiran KH Noer Alie akan melemahnya perjuangan karena perpecahan yang terjadi dalam barisan pertahanan terbukti dengan terjadinya pertempuran antara sejumlah badan pertahanan dengan TNI seperti terjadi di Tambun dan Karawang.

Kelemahan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Belanda dengan melakukan agresi militer belanda I pada tanggal 21 Juli 1947. Badan perjuangan yang belum sempat melebur kedalam TNI bobol dan bercerai – berai tanpa pimpinan yang kuat

KH Noer Alie yang sudah memutuskan untuk tidak aktif di militer sebelum agresi militer Belanda I terpanggil kembali jiwa perjuangannya untuk mempertahankan Republik Indonesia karena waktu itu Pemerintahan Republik Indonesia pada tingkat lokal lumpuh secara de facto ( fakta ) maupun secara de jure ( hukum )

Pada saat itu pergerakan yang masih tersisa adalah satu pasukan TNI setingkat kompi yang tidak berdaya dan anggotanya cuma tinggal belasan orang tanpa uniform TNI dibawah kendali Mayor Lukas Kustaryo yang berjuang berpindah – pindah dari satu kampung ke kampung yang lain dan berlindung kepada sahabatnya KH Noer Alie seorang tokoh Kahrismatis setempat.

KH Noer Alie yang tidak rela Tanah Airnya dikuasai penjajah, menghimpun orang orang kepercayaannya untuk melaksanakan musyawarah darurat di Wadas, Karawang yang memutuskan untuk menyusun kembali kekuatan Indonesia, melakukan perlawanan bersenjata dan mengembalikan moral rakyat agar tetap berpihak kepada Indonesia.

Pada muzyawarah tersebut juga diputuskan bahwa KH Noer Alie diutus untuk menghadap Panglima Besar Jenderal Soedirman di Jogjakarta, maka bersama lima orang anak buahnya ( Mahmud Maksum, Ahmad Djaelani As’ari, M Zainudin Mughni, Hasan Dagang dan seorang dari Kosambi ) KH Noer Alie berangkat ke Jogjakarta dengan kereta api.

Sesampai di Jogjakarta rombongan KH Noer Alie diterima oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohadjo ( Jenderal Soedirman tidak berada ditempat ) dari Letnan Jenderal Oerip Soemohadjo KH Noer Alie diperintahkan untuk menyusun kembali pasukan dan melakukan perlawanan secara bergerilya.

Pada bulan September 1947 dengan sisa pasukan yang tercerai – berai mereka menddiran organisasi perlawanan gerilya yang terpisah dari Hizbullah – Sabilillah pusat dengan nama Markas Pusat Hizbullah – Sabilillah ( MPHS ) yang diketua langsung oleh KH Noer Alie.

Pada tanggal 10 Januari 1948 Mohammad Moe’min, Wakil Residen Jakarta,dari pihak Republik Indonesia mengangkat KH Noer Alie sebagai Koordinator ( Pejabat Bupati ) Kabupaten Jatinegara. Namun jabatan pemetinta yang seharusnya dimulai pada tanggal 15 Januari 1948 tidak berlangsung lama karena pada tanggal 17 Januari 1948 terjadi perjanjian Renville yang mengharuskan tentara Indonesia di Jawa Barat hijrah ke Jawa Tengah dan Banten. KH Noer Alie memilih Hijrah ke Banten dengan membawa 100 orang pasukan dari kompi Syukur.

Ketika perlawanan bersenjata mulai mereda, pada tahun 1949 KH Noer Alie memilih berjuang di lapangan sipil diminta membantu Muhammad Natsir sebagai anggota delegasi Republik Indonesia Serikat di Indonesia dalam konprensi Antar Indonesia – Belanda

Dalam kesempatan tersebut KH Noer Alie dalam beberapa kesempatan membahas kelanjutan perjuangan dengan tokoh – tokoh nasional di Jakarta seperti Muhammad Natsir, Mr. Yusuf Wibisono, Mr. Muhammad Roem, Muhammad Syafe;I dan KH Rojiun dan kemudian beliau untuk menyalurkan aspirasi polotiknya, bergabung dalam partai Masjumi

Pada bulan Januari 1950, KH Noer Alie bersama teman – teman dan anak buahnya seperti R. Supardi, Madnuin Hasibuan, Namin, Taminudin, Marzuki Hidayat, Marzuki Urmani, Nurhasan Ibnuhajar, A. Sirad, Hasan Syahroni dan Masturo membentuk Panitia Amanat Rakyat.

Pada tanggal 17 Januari 1950, Panitian Amanat Rakyat ini kemudian menghimpun sekitar 25 ribu rakyat Bekasi dan Cikarang di Alun – Alun Bekasi. Mereka mendeklarasikan resolusi yang menyatakan penyerahan kekuasaan pemerintah Federal kepada Republik Indonesia. Pengembalian seluruh Jawab Barat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan KH Noer Alie bersama Lukas Kustaryo menuntut agar nama kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Tuntutan tersebut diterima oleh Perdana Menteri Mohammad Natsir, sehingga pada tanggal 15 Agustus 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi di Jatinegara serta selanjutnya dimasukkan kedalam wilayah Provinsi Jawa Barat.

Pertempuran KH Noer Alie
Untuk wilayah Bekasi dan sekitarnya KH Noer Alie sangat gigih melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda sehingga beliau dikenal dengan julukan “Singa Karawang – Bekasi “. Kisah kepahlawanan KH Noer Alie telah menginspirasi seorang pujangga besar Indonesia yaitu Khairil Anwar untuk menulis karya puisi ” Karawang – Bekasi ” yang sangat terkenal itu. Dari sekian banyak pertempuran yang telah dilakukan, terdapat dua kisah pertempuran yang memperlihatkan semangat perjuangan dengan keberanian dan kecerdikan yang telah dilakukan oleh KH Noer Alie dan perperangan itu berperan besar dalam kelanjutan kisah perjuangan rakyat Bekasi yaitu :

1. Pertempuran Sasak Kapuk

Pada tanggal 29 November 1945 meletus pertempuran sengit pasukan KH Noer Alie dengan Sekutu – Inggris di Pondok Ungu seiring gema takbir dalam kalimat Hizbun Nash berkumandang bersamaan dengan langkah pasukan rakyat KH Noer Alie mendesak pasukan Sekutu karena serangan mendadak pasukan rakyat.

Melihat pasukan sekutu sudah mulai terdesak, mulai timbul rasa takabur pada pasukannya sehingga ketika pasukan sekutu mulai berbalik setelah sekitar satu jam terdesak, pasukan rakyat berbalik terdesak sampai jembatan Sasak Kapuk. Pondok Ungu. Bekasi. Melihat kondisi pasukanya yang sudah kocar – kacir, KH Noer Alie memerintahkan pasukannya untuk mundur, tapi sebagian pasukannya masih tetap bertahan sehingga sekitar tiga puluh orang pasukan Laskar Rakyat gugur dalam pertempuran tersebut.

2. Peristiwa Rawa Gede

Untuk menunjukkan bahwa pertahanan Indonesia masih eksis, dibeberapa tempat MPHS melakukan perang urat syaraf. KH Noer Alie memerintahkan pasukannya bersama masyarakat di Tanjung Karekok, Rawa Gede dan Karawang untuk membuat bendera merah – putih ukuran kecil terbuat dari kertas

Ribuan bendera tersebut lalu ditancapkan di setiap pohon dan rumah penduduk dengan tujuan membangkitkan moral rakyat bahwa ditengah – tengah kekuasaan Belanda masih ada pasukan Indonesia yang terus melakukan perlawanan.

Aksi herois tersebut membuat Belanda terperangah dan mengira pemasangan bendera merah-putih tersebut dilakukan oleh TNI, Belanda langsung mencari Mayor Lukas Kustaryo, karena tidak ditemukan Belanda marah dan membantai sekitar empat ratus orang warga sekitar Rawa Gede.

Pembantaian yang terkenal dalam laporan De Exceseen Nota Belanda itu disatu sisi mengakibatkan terbunuhnya rakyat, namun disisi lain para para petinggi Belanda dan Indonesia tersadar bahwa disekitar Karawang, Cikampek, Bekasi dan Jakarta masih ada kekuatan Indonesia. Sedangkan citra Belanda kiat terpuruk, karena telah melakukan pembunuhan keji terhadap penduduk yang tidak bedosa.

Dari catatan lain ditemukan bahwa pada tahun 1984 KH Noer Alie kedatangan tamu pakar sejarah dari Belanda yang ditemani oleh seorang penterjemah dari wartawan koran Pelita.
Dari pembicaraan Pakar sejarah dari Belanda tersebut terkuak bahwa KH Noer Alie, oleh penjajah Belanda lebih dikenal sebagai Kolenel Noer Alie
“ Ternyata seorang Kolonel Noer Alie bukan tentara yang gagah perkasa. Penampilan anda begitu bersahaja. Bahkan sangat sederhana. Malah pakai kain dan kopiah putih. Saya takjub dengan jati diri Anda “



Perjuangan Politik

● Pada tanggal 19 April 1950 KH Noer Alie dipilih sebagai Ketua Masjumi Cabang Jatinegara wakil ketua Dewan Pemerintahan Daerah Bekasi ( 1950 – 1956 )

● Bersama KH Rojiun, KH Noer Alie menggagas membentuk Lembaga Pendidikan Islam (LPI ) yang salah satu programnya mendirikan Sekolah Rakyat Islam di Jakarta dan Jawa Barat

● Di Ujung Malang, KH Noer Alie kembali mengaktifkan pesantrennya dengan SRI sebagai lembaga pendidikan pertama.

Dalam empat tahun SRI sudah terbentuk di tujuh desa yaitu di Pulo Asem, Wates, Buni Bhakti, Pondok Soga, Penggarutan, Gabus Pabrik dan Kali Abang Bungur dengan proses belajar mengajar yang sangat sederhana dengan memanfaatkan rumah, langgar sampai bekas kandang kerbau yang sudah tidak terpakai

● Pada tahun 1953 karena LPI sudah tidak aktif lagi, KH Noer Alie membentuk organisasi pendidikan dengan nama Pembangunan Pemeliharaan Pertolongan Islam ( P3 ) yang dijadikan induk bagi SRI, pesantren dan kegiatan sosial.

● Pada tahun 1954 KH Noer Alie memerintahkan KH Abdul Rahman mendirikan Pesantren Bahagia di Bekasi ( sekarang Kodim Bekasi ) dengan santri pertamanya diambil dari para santri lulusan SRI

● Pada Tahun 1952 Nahdlatul Ulama di tingkat pusat keluar dari partai Masjumi dan KH Noer Alie besama beberapa anak buahnya seperti KH Mahadi, Abdullah Syair dan Ya’kub Ahmad membentuk partai Nahdlatul Ulama di Bekasi

● Pada tahun 1958 KH Noer Alie terpilih sebagai anggota Dewan Konstituante menggantikan Sjafruddin Prawiranegara yang mengudurkan diri.

● Bersama para ulama dan Tentara Teritorium III, KH Noer Alie ikut membidani pembentukan Majelis Ulama Jawa Barat.

● Pada tahun 1960 KH Noer Alie aktif menghadang gerakan PKI dan memberikan pandangan kepada organisasi pelajar dan mahasiswa

● Pada tahun 1966 KH Noer Alie mengaktifkan Majelis Ulama Jawa Barat dengan dukungan Pangdam VI Siliwangi HR Darsono dan kemudian Majelis Ulama Jawa Barat ini mengispirasi pemerintah pusat untuk mendidkan Majelis Ulama Indonesia ( MUI )

● Pada Tahun 1972 KH Noer Alie bersama para pemimpin pondok pesantren diantranya KH Sholeh Iskandar, KH Abdullah Syafi’ie, KH Khair Effendi, KH Tubagus Hasan Basri mendirikan Badan Kerjasama Pondok Pesantren ( BKSPP ) Jawa Barat dan selanjutnya BKSPP Jawa Barat ini pada masa Presiden BJ Habibie statusnya ditingkatkan menjadi BKSPP Indonesia

KH Noer Alie termasuk salah seorang kiai yang bereaksi keras terhadap Rancangan Undang – Undang Perkawinan ( RUUP ) yang tidak sesuai dengan syariat Islam sampai RUUP itu digagalkan

● Melalui BKSPP KH Noer Alie menentang pelarangan jilbab bagi pelajar muslim ( 1982 – 1983 ) dan menyatakan ketidak setujuannnya terhadap Rancangan Undang – Undang No 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang wajib mencantumkan Pancasila sebagai satu – satunya azas

● KH Noer Alie juga salah seorang kiai yang menuntut penghapusan Porkas Sepak Bola yang dinilainya sebagai judi

● Diusia senjanya, KH Noer Alie bersama Bupati Bekasi Suko Martono mendirikan Yayasan Nurul Islam yang salah satu programnya membangun gedung Islamic Centre Bekasi. Belia juga ikut mendirikan Forum Ukhuwah Islamiyah ( FUI ) dan aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ( DDII )

Sang Ulama Kharismatik
KH Noer Alie dilingkungan keseharianya dikenal sebagai seorang Kiyai yang sangat peduli dengan pendidikan, cerdas, berani dan sangat dihormati oleh lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan cerita masayarakat disekitar Desa Ujungharapan Bahaga, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Apabila KH Noer Alie berjalan yang dikenal dengan sebutan “ Engkong Kiyai “ berjalan tidak ada seorangpun baik pejalan kaki ataupun yang memakai kendaraan yang berani mendahului, mereka lebih cendrung untuk memilih jalan lain atau melompati got sebagai jalan pintas apabila terpaksa harus mendahului Engkong Kiyai

Melihat begitu tingginya kharisma yang terpancar dari seorang KH Noer Alie, mulai dari warga atau penduduk sekitar pesantren sampai kepada aparat pemerintahan.

Pada zamannya, tidak ada akses jalan yang rusak disekitar desa karena apabila terjadi kerusakan jalan dan diketahui oleh KH Noer Alie, aparat pemerintah akan langsung buru – buru memperbaiki mengingat besarnya jasa beliau terhadap pembangunan terutama di wilayah Bekasi.

Salah satu karya fenomenal yang berhasil diujudkan oleh KH Noer Alie dan sangat perlu menjadi contoh bagi umat saat ini adalah pembangunan dan pembukaan akses jalan secara besar – besaran disekitar Desa Ujungharapan Bahaga, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam setiap jalan yang dibangun beliau tidak pernah mengeluarkan biaya untuk pembebasan tanah warga, tetapi apabila itu merupakan instruksi dari “ Engkong Kiyai “, semua warga dengan sukarela dan ikhlas akan mewakafkan tanahnya seperti pelebaran Gang Perintis pada tahun 1980, beliau terjun langsung memimpin gotong – royong pengerjaannya

Dari sana terlihat bahwa KH Noer Alie bukan seorang tokoh bertipikal elitis atau selalu bersikap populis tapi benar – benar seorang pemimpin yang merakyat yang mau mengerjakan apa yang diucapkan di podium, beliau bukan pemimpin yang hanya bisa bicara dan main perintah saja atau pemimpin yang hanya duduk manis sambil baca Koran ketika berdebat tentang kesejahteraan rakyat merasa dirinya orang yang paling tahu, pada hal tidak tahu apa – apa.

Gelar Kepahlawanan Nasional 
 
Pada tanggal 3 November 2006, atas nama Presiden RI (Kepres RI No. 085/TK/Tahun 2006) menganugerahkan gelar `Pahlawan Nasional` dan `Bintang Mahaputera Adipradana` kepada Alm. Kiai Haji Noer Alie tokoh pejuang dari Bekasi Jawa Barat, atas jasa-jasanya.

Pada tahun 1937 bersama Hasan Basri membentuk organisasi Persatuan Pelajar Betawi dimana KH. Noer Alie sebagai ketuanya. Tahun 1945 KH. Noer Alie membentuk Laskar Rakyat bekerja sama dengan TKR Bekasi dan Jatinegara untuk memobilisasi pemuda dan santri ikut latihan kemiliteran di Teluk Pucung-Bekasi. Setelah Agresi Militer I Belanda, KH. Noer Alie mendirikan organisasi gerilya baru dengan nama Markas Pusat Hizbullah Sabiillah (MPHS) di Tanjung Karekok Cikampek.

Pada tahun 1955, Masyumi Bekasi memperoleh suara terbanyak dalam Pemilu dimana beliau sebagai Ketua Cabang Masyumi Bekasi oleh Masyumi Pusat sebagai salah seorang anggota Dewan Konstituante pada bulan Desember 1956.

KH Noer Alie seorang ulama dan seorang pejuang telah dianugrahi gelar Pahlawan Nasional dan bintang Maha Putra Adipradana oleh pemerintah Republik Indonesia. Penganugrahan gelar tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 085/T/Tahun 2006 tanggal 03 November 2006

Penganugrahan gelar tersebut dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono melalui KH M Amin Noer salah seorang putra KH Noer Alie pada hari Kamis tanggal 09 November 2006 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara Jakarta

Penganugrahan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada KH Noer Alie merupakan sebuah puncak penghargaan tertinggi terhadap ulama pejuang yang telah mengabdikan dirinya, jiwa raganya lahir dan batin secara ikhlas untuk agama bangsa dan negara terutama dikawasan Jawa Barat ( Bekasi, Cikarang, Karawang, Cikampek, Purwakarta, Bogor dan Bandung ), Jakarta sampai Propinsi Serang Banten Sekarang

KH Noer Alie semasa perang kemerdekaan antara tahun 1945 – 1949 dijuliki sebagai “ Singa Karawang – Bekasi. “ Tercatat sebagai Komandan Batalyon III Hizbullah Bekasi dan Pimpinan Umum Markas Pusat Hizbullah Sabilillah Jakarta Raya, Beliau juga pernah menjabat Koordinator ( Bupati ) Jatinegara, pelopor pemisahan bekasi dan cikarang dari distrik Federal Jakarta untuk kemudian bergabung kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ketua Partai Masjumi Cabang Jatinegara, Wakil Dewan Pemerintahan Daerah Kabupaten Bekasi dan anggota Dewan Kontituante.

Sumber : Alie Anwar/Sejarawan Bekasi dan Berbagai sumber/vmg2.