Senin, 13 Juni 2011

Ahmad Zurfaih Dibalik Layar Pahlawan Nasional K.H. Noer Alie

Penulis : Ali Anwar, Sejarawan
 
gambar:Poskota
Bagi masyarakat kampung ujungmalang (sekarang Ujungharapan)dan tokoh agama pada zamannya Noer Alie adalah sosok yang paling disegani dan taat pada agamanya, apapun yang beliau niatkan dan lakukan tak lain adalah Lillahi Ta'ala (Karena Allah). Beliau memang tidak banyak menulis buku, tetapi juga beliau tidak akan pernah mau untuk ditulis tentang dirinya. 

Konon Bang Ali Anwar pernah ingin mewawancarainya dan akan dijadikan buku biografinya pernah ditolaknya. Lalu bagaimana anak cucu kita bisa tahu kalau tidak ada bahan bacaan untuk mengenal lebih jauh tentang sosoknya, kalau bukan dari buku dan tulisan-tulisan? Ali Anwar adalah salah seorang yang  berjasa dalam melestarikan sosok seorang Noer Alie. Buku pertama yang ditulisnya adalah KH Noer Alie, Kemandirian Ulama Pejuang.” dan banyak tulisan dan artikel lainnya.



Dalam catatan  Facebooknya Ali Anwar mengungkap siapa saja yang ikut andil dalam  proses KH. Noer Alie dinobatkan  Pahlawan Nasional. Berikut catatannya :



"WAJAH Akhmad Zurfaih berseri-seri. Nazarnya untuk mengundang sejarawan Prof. Dr. Anhar Gonggong, kesampaian juga. Anhar hadir dalam Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi Award pada 13 Desember 2006.

Meski tengah menjabat Wali Kota Bekasi periode 2003-2008, namun Zurfaih menempatkan dirinya sebagai Ketua Umum BKMB Bhagasasi. Adapun kapasitas Anhar bukan sebagai guru besar sejarah Universitas Indonesia, melainkan perwakilan tim penilai pahlawan nasional.

Tim penilai pahlawan nasional inilah, yang menurut Zurfaih, sebagai salah satu komponen yang ikut menentukan dianugerahinya KH Noer Alie sebagai Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adhipradana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Nopember 2006.

Bagi Zurfaih, kalau seseorang calon pahlawan nasional telah direkomendasikan oleh tim penilai yang sebagian besar anggotanya para akademisi, maka peluangnya amat besar menjadi pahlawan nasional. Selebihnya, tinggal diproses aspek administrasinya oleh Kementerian Sosial dan politis oleh presiden.

“Rakyat Bekasi kudu berterima kepada mereka, sehingga KH Noer Alie jadi pahlawan nasional,” kata Zurfaih. Memang, saat memberikan penghargaan kepada Anhar, Zurfaih sebagai Ketua Umum BKMB Bhagasasi, namun dalam memperjuangkan KH Noer Alie sebagai pahlawan nasional, dia menggunakan kedua jabatannya sebagi Wali Kota Bekasi dan ketua Umum BKMB Bhagasasi.

Hubungan Zurfaih dengan Anhar bermula dari situasi pesimistis. Nama KH Noer Alie sebagai calon pahlawan nasional yang diajukan Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Jawa Barat, nyaris kandas.

Alasannya, salah seorang anggota tim penilai dari unsur Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan kepada saya dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Bekasi, Saifullah, bahwa dari sekitar 10 orang tim penilai, Hanya sebagian kecil yang membaca buku saya--yang dijadikan rujukan utama, “KH Noer Alie, Kemandirian Ulama Pejuang.”

“Saya pesimistis KH Noer Alie lolos. Jangankan dinilai, dibacapun tidak,” katanya pada akhir Agustus 2006. Saya bertanya, siapa saja anggota tim penilai saat itu. Dia menyebutkan beberapa nama, diantaranya Anhar Gonggong.Saat situasi genting dan pesimistis itu, saya ikut mencari cara agar biografi KH Noer Alie dibaca tim penilai.

Dari beberapa teman, saya memperoleh alamat lengkap Anhar di Pondok Gede, Kota Bekasi.Tiba-tiba pikiran saya tertuju ke Akhmad Zurfaih. Alasannya sederhana, Anhar warga Kota Bekasi, sedangkan wali kotanya Zurfaih. Mudah-mudahan saja Zurfaih bisa membujuk warganya itu agar memperhatikan KH Noer Alie.

Pada Jumat, 1 September 2006, saya menemui Zurfaih di Kantor Wali Kota Bekasi. “Pak Wali, saya minta tolong,” kata saya. Zurfaih terkejut, karena sejak dia menjabat wali kota, baru kali ini saya meminta tolong kepadanya.Saya ceritakan agak panjang lebar perjuangan Pemerintah Kabupaten Bekasi, Ketua Yayasan Attaqwa KH Amin Noer, dan saya, agar KH Noer Alie menjadi pahlawan nasional. “Namun, sepertinya bakal kandas,” kata saya.

“Apa urusannya sama Kota Bekasi? Itu kan urusan Kabupaten Bekasi. Kota Bekasi kan cuma memberikan dukungan,” kata Zurfaih. Lantas saya ajukan nama warga Kota Bekasi yang menjadi tim penilai, Anhar. “Mungkin Pak Wali bisa bicara mengundangnya agar Pak Anhar selaku warga Bekasi punya perhatian kepada KH Noer Alie,” saya menambahkan.“

Soal bagaimana caranya, terserah Pak Wali dah,” ujar saya. Zurfaih paham maksud saya. Dia mengontak sejumlah orang di Kecamatan Pondok Gede. Sepekan kemudian, Zurfaih mengabarkan bahwa dirinya sudah mengundang Anhar di Kantor Kecamatan Pondok Gede. “Para tokoh masyarakat dan ulama bercerita tentang KH Noer Alie di hadapan Pak Anhar,” kata Zurfaih.

Kabar menggemirakan itupun datang juga. Pada awal Nopember 2006, merebak kepastian bahwa KH Noer Alie lolos sebagai pahlawan nasional. Saya amat bangga, tokoh yang saya kagumi dan saya buatkan biografinya, akhirnya memperoleh gelar tertinggi negara ini. Sebelumnya, pada 1995, KH Noer Alie memperoleh gelar Bintang Nararya dari Presiden Soeharto.

Di sela-sela penganugerahan Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adhipradana di Istana Negara pada 9 Nopember 2006, saya sempat berbicara dengan Anhar Gonggong. “Wali Kotamu itu memang hebat, salam buat beliau,” kata Anhar.

Beberapa hari kemudian, saya sampaikan pertemuan saya dengan Anhar kepada Zurfaih. Zurfaih amat senang, dan bernazar untuk mengundangnya secara khusus di Kota Bekasi. Maka, Munculah gagasan BKMB Bhagasasi Award. Penerima penghargaan, selain Anhar, juga ada Rosihan Anwar, Des Alwi, Chairil Anwar, Alex dan Frans Mendur, KH Noer Alie, M. Husein Kamaly, Namun Abuchoir, Zakaria Burhanuddin, dan saya.

Sepekan menjelang BKMB Bhagasasi Award, saya dan Sekretaris BKMB Bhagasasi Abdul Khoir menemui Anhar di rumahnya di Pondok Gede. Anhar mengakui, baru membaca biografi KH Noer Alie setelah mendengarkan kesaksian para tokoh masyarakat dan ulama di Kecamatan Pondok Gede.

Namun, kata dia, bukan kesaksian mereka yang paling utama, melainkan sejauh mana peran KH Noer Alie dalam kancah nasional sehingga layak dinilai sebagai pahlawan nasional. “Karena namanya nyaris tidak tercantum dalam sejarah nasional,” kata Anhar.

 Anhar kian tergerak saat membaca biografi Pimpinan Umum Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya itu. Pada halaman 221 dia menemukan lampiran yang berisi tulisan Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution pada Agustus 1992.

Pada kutipan terakhir, Nasution menyatakan, “Mengenang KH Noer Alie adalah mengenang pejuang sepanjang hayat, di bidang manapun diperlukan bangsa dan umat. Nama beliau mesti tercatat di 'tugu syuhada' Indonesia sebagai ulama teladan yang selalu bersama rakyat dan umat.”

Pada masa Perang Kemerdekaan 1945-1949, Nasution menjabat Panglima Divisi Siliwangi yang membawahi seluruh pasukan bersenjata di Jawa Barat, termasuk pasukan KH Noer Alie yang berjuang sepanjang Jakarta, Bekasi, Karawang, dan Cikampek.

 “Kalau petinggi tentara saja sudah menyatakan KH Noer Alie layak sebagai syuhada Indonesia (pahlawan ansional), tidak ada yang bisa membantah,” kata Anhar. Setahun menjelang wafatnya, saya mewawancarai Zurfaih di rumahnya, Jatiasih, Kota Bekasi.

Dia menyatakan kebanggannya menjadi salah seorang yang ikut memperjuangkan KH Noer Alie menjadi pahlawan nasional. “Sejarah akan mencatat, gua punya peran di balik layar,” kata Zurfaih.


Sumber : Catatan Facebook